Selasa, 05 Januari 2016

TUGAS KRITIK JURNAL

KAJIAN KONDISI OSEANOGRAFI UNTUK KELAYAKAN BUDIDAYA BEBERAPA SPESIES RUMPUT LAUT DI PERAIRAN PANTAI BARAT SULAWESI SELATAN
Study Oceanographic Conditions for Feasibility Cultivation Some Species of Seaweed in Coastal Waters West of South Sulawesi
Ilham Jaya1& Abd. Rasyid J2 1,2)Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan, Universitas Hasanuddin

ABSTRACT
Seaweeds, one of important commodity in Indonesia, have been widely used for daily needs, either for consumption or for industrial raw material. Seaweed culture requires environment preference for living in the water. This study was carried out in the waters of Pangkep Regency for six months, form July to December 2009. The obtained field data consisted of several physicchemical oceanography parameters. These data were then analyzed to evaluate and determine the feasibility of marine waters location for seaweed culture purpose, using scoring test, then followed by score weighing. The result of the study suggested that the study area was categorized as suitable enough. In general, the study area can be categorized as suitable area for seaweed culture provided considering certain limiting factors. There are six seaweed species have not been cultured and they have economic prospects.

Keywords: seaweed, culture feasibility, west coast

PENDAHULUAN
Rumput laut merupakan komoditi yang pemanfaatannya cukup luas dalam kehidupan sehari-hari, baik untuk dikonsumsi secara langsung, maupun sebagai bahan baku berbagai industri. Sehingga secara komersial, budidaya komoditi tersebut bersifat sangat menguntungkan. Namun demikian, kenyataan menunjukkan bahwa produksi dalam negeri komoditas tersebut belum mencapai target yang dicanangkan sesuai ketersediaan lahan budidaya potensial yang tersebar pada berbagai peraiaran di Indonesia.
Budidaya rumput laut memerlukan preferensi lingkungan untuk tumbuh pada perairan. Preferensi ini jika tidak dipenuhi maka akan sulit bahkan tidak biasa bagi rumput laut untuk tumbuh. Faktor oseanografi memegang peranan penting dalam preferensi lingkungan disamping, topografi serta letak pulau tempat penanaman rumput laut (Barsanti & Paolo Gualtiari, 2006).

METODE PENELITIAN
Lokasi dan Waktu Pelaksanaan
Kegiatan penentuan kelayakan budidaya rumput laut dari beberapa spesies baru di perairan Kabupaten Pangkep dilaksanakan selama enam (6) bulan, mulai bulan Juli – Desember 2009.

Metode Pelaksanaan
Analisis Kuantitatif-Deskriptif
Data pengukuran di lapangan dan di laboratorium berupa angka atau nilai parameter perairan dianalisis secara kuantitatif. Kemudian kisaran nilai kesesuaian dan kelayakan perairan laut untuk budidaya perikanan ini dijelaskan dan dibahas secara deskriptif dalam bentuk pelaporan kegiatan. Semua aspek-aspek kelayakan budidaya perikanan laut akan dianalisis berdasarkan datadata lapangan yang mengacu pada standar referensi ilmiah

HASIL DAN PEMBAHASAN
Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep) terletak di pesisir pantai Barat Propinsi Sulawesi Selatan antara 110˚ - 113˚ BT dan 4˚40’ LS sampai dengan 8˚00’ LS dengan batas-batas wilayah, meliputi :
  • Sebelah Utara berbatasan dengan Kabupaten Barru
  • Sebelah Selatan berbatasan dengan Kabupaten Maros
  • Sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Bone
  • Sebelah Barat berbatasan dengan P. Kalimantan, P. Jawa, P. Madura, P. Nusa Tenggara dan Bali
Luas wilayah Kabupaten Pangkep 12.362,73 km2, dengan luas wilayah daratan 898,29 km2 dan wilayah laut 11.464,44 km2 dengan jumlah 112 pulau. Secara administrasi, Pemerintah Kabupaten Pangkep terdiri dari 12 Kecamatan, terbagi atas 9 kecamatan daratan dan 3 kecamatan di kepulauan.
Hasil tabulasi pengukuran kedalaman di perairan Pangkep berkisar 0,81 – 32,1 m. Berdasarkan hasil pengukuran tersebut diperoleh pada stasiun (5,6,10,12,13) tergolong sesuai untuk kegiatan budidaya rumput laut, stasiun (3,4) tergolong cukup sesuai dan stasiun (1,2,7,8,9,11) tidak sesuai untuk budidaya rumput laut. Hal ini sejalan dengan Aslan (1998) dan Hidayat (1994) yang mengemukakan bahwa kedalaman yang sesuai untuk kegiatan budidaya rumput laut berkisar 0,6 – 2,1 m, cukup sesuai 0,3 – 0,59 atau 2,1 – 10 m dan tidak sesuai < 0,3 atau > 2,1.
Pengukuran gelombang di perairan Kabupaten Pangkep didapatkan tinggi gelombang 0,87 meter. Hasil tersebut merupakan tinggi gelombang yang sesuai untuk budidaya rumput laut.
Hasil pengukuran pasang surut di lapangan didapatkan pasang tertinggi 2,51 meter , surut terendah 0,60 meter, beda tinggi muka air 1,91 meter dan nilai MSL 1,05 meter. Sehingga parameter pasut berada pada kelas yang sesuai untuk budidaya rumput laut. Hasil pengukuran kecepatan arus yang diperoleh di lapangan berkisar 0,029 – 0,13 m/s cukup sesuai untuk kegiatan budidaya rumput laut. Hal ini sejalan dengan Aslan (1998) bahwa
kecepatan arus yang sesuai 0,2 – 0,3 m/s, cukup sesuai 0,31 – 0,4 m/s atau 0,1 – 0,019 m/s dan tidak sesuai < 0,1 atau > 0,4 m/s.
Perairan Pangkep merupakan perairan yang tingkat kecerahannya tinggi dan sesuai dalam kegiatan budidaya rumput laut. Hasil pengukuran tersebut sejalan dengan Aslan (1998) bahwa tingkat kecerahan yang sesuai untuk budidaya rumput laut berkisar 80% - !00%.
Menurut Aslan (1998) dan Hidayat (1994) bahwa kekeruhan suatu perairan yang sesuai untuk kegiatan rumput laut <10 NTU, cukup sesuai berkisar 10 – 40 NTU dan tidak sesuai >40 NTU. Berdasarkan hasil pengukuran di perairan Pangkep bahwa rendahnya kekeruhan di perairan tersebut sesuai untuk kegiatan budidaya rumput laut.
Hasil pengukuran suhu di lapangan pada perairan Pangkep didapatkan berkisar antara 28 – 31 ˚C. Yaitu pada stasiun 1 – 9 dan 12,13 suhunya sesuai dalam budidaya rumput laut sedangkan stasiun 10 dan 11 suhunya cukup sesuai.
Hasil pengukuran salinitas di Kabupaten Pangkep berada pada kisaran 33 ‰ – 36 ‰. Salinitas perairan Kabupaten Pangkep berada pada kelas yang cukup sesuai dan tidak sesuai.
Kelas yang cukup sesuai berada pada stasiun 1,3 – 7,10 – 13 sedangkan kelas yang tidak sesuai pada stasiun 2,8 dan 9.
Pengukuran DO di perairan Kabupaten Pangkep didapatkan berada pada kisaran 5,78 – 7,56 mg/l. Maka hasil pengukuran tersebut berada pada kelas yang sesuai untuk budidaya rumput laut.
Menurut Aslan (1998) dan Hidayat (1994) bahwa derajat keasaman yang sesuai untuk budidaya rumput laut berkisar 7 – 8,5, cukup sesuai 6,5 - <7 atau <8,5 – 9,5 dan tidak sesuai <6,5 atau >8,5. Hasil pengukuran didapatkan bahwa pH di perairan Pangkep sesuai untuk kegiatan budidaya rumput laut.

Analisis Kesesuaian Perairan Budidaya Rumput Laut
Analisis kesesuaian dilakukan dengan tujuan untuk mendapatkan ruang atau area yang
sesuai untuk budidaya rumput laut di perairan Kabupaten Pangkep. Evaluasi nilai dari masing – masing kelas kesesuaian setiap parameter berdasarkan kriteria kelas, pembobotan dan skoring dengan menggunakan aplikasi SIG.
Tingkat kesesuaian perairan tersebut didapatkan tiga kelas kesesuaian, yaitu sesuai, cukup sesuai dan tidak sesuai. Penentuan kelas kesesuaian perairan diperoleh melaluai skoring dan pembobotan. Kategori kelas sesuai artinya bahwa tidak mempunyai faktor pembatas yang berarti untuk mempertahankan tingkat pengolahan yang harus diterapkan, kelas cukup sesuai artinya bahwa mempunyai faktor pembatas yang berarti untuk mempertahankan tingkat pengolaan yang harus diterapkan tetapi faktor pembatas tersebut dapat dikurangi atau diperbaiki dengan pemberian input baru. Dan tingkat kesesuaian terakhir adalah kategori kelas tidak sesuai artinya bahwa tidak dapat direkomendasikan sebagai area untuk kegiatan budidaya rumput laut.
Hal ini juga dapat dilihat pada kecepatan arus yang relatif kecil sehingga kandungan nutrien yang dibawa sangat kurang. Tinggi gelombang yang tidak sesuai sehingga mengakibatkan proses pertumbuhan pada rumput laut terhambat karena kotoran yang menempel tidak dapat dibersikan.

Jenis Rumput Laut
Rumput laut terdiri dari ratusan jenis yang tersebar di perairan Indonesia dan hanya terdapat lima jenis yang mempunyai nilai ekonomis tinggi yaitu dari Gelidium sp, Geldiella sp, Hypnea sp, Euchema sp dan Gracillaria sp (Balitbangda,2006).
Berdasarkan hasil yang diperoleh dari lapangan bahwa 18 spesies rumput laut yang tersebar diperairan, ada 6 jenis yang dapat dibudidayakan dan memiliki nilai ekonomis yang cukup tinggi yaitu Gelidium sp, Sargassum polycystum, Hypnea sp, Ulva fascitiata, Caulerpa resemosa dan Gracillaria sp.

KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian maka dapat ditarik beberapa kesimpulan: Lokasi penelitian memperlihatkan bahwa daerah tersebut masuk dalam kategori cukup sesuai (CS). Secara keseluruhan daerah penelitian dapat dijadikan sebagai daerah budidaya rumput laut, dengan tetap memperhatikan faktor-faktor pembatas tertentu. Terdapat enam jenis rumput laut yang belum dibudidayakan dan memiliki prospek secara ekonomi.

DAFTAR PUSTAKA
Aslan,M. 1998. Budidaya Rumput Laut. Penerbit Kanisius. Yogyakarta

Balitbang Propinsi Sulawesi Selatan, 2006. Sinkronisasi Kebijakan Pengembangan dan Pemetaan Kesesuaian Lahan dalam Rangka Peningkatan Daya Saing Produk Budidaya Rumput Laut Propinsi Sulawesi Selatan. Balitbagda. Prop. Sulsel kerjasam dengan LP2S-UMI, Makassar

Hidayat, A. 1994. Budidaya Rumput Laut. Usaha Nasional. Surabaya

KRITIK JURNAL

Jurnal tersebut bagus dan menarik,isinya mengenai parameter-parameter yang mempengaruhi untuk budidaya rumput laut dan jenis-jenis rumput laut. Lebih baik jika jurnal tersebut menyebutkan juga system budidaya rumput laut yang bisa digunakan dalam perairan tersebut.

Jumat, 13 November 2015

TUGAS TEKNOLOGI INFORMASI BIOINFORMATIKA DALAM DUNIA PERIKANAN

Bioteknologi modern ditandai dengan kemampuan manusia untuk memanipulasi kode genetik DNA, “cetak biru kehidupan”. Berbagai aplikasinya telah merambah sektor kedokteran, pangan, lingkungan, perikanan, dan sebagainya. Bioinformatika merupakan  suatu ilmu yang mempelajari penerapan teknik komputasional untuk mengelola dan menganalisis informasi biologis. Bidang ini mencakup penerapan metode-metode matematika, statistika, dan informatika untuk memecahkan masalah-masalah biologis, terutama dengan menggunakan sekuens DNA dan asam amino serta informasi yang berkaitan dengannya. Bioinformatika muncul atas desakan kebutuhan untuk mengumpulkan, menyimpan dan menganalisa data-data biologis dari database DNA, RNA maupun protein. Keberadaan database adalah syarat utama dalam analisa Bioinformatika. Database informasi dasar telah tersedia saat ini. Untuk database DNA yang utama adalah GenBank di AS. Sementara itu bagi protein, databasenya dapat ditemukan di Swiss-Prot, untuk sekuen asam aminonya dan di Protein Data Bank. Pencarian database umumnya berdasar hasil alignment/pensejajaran sekuen, baik sekuen DNA maupun protein. Kegunaan dari pencarian ini adalah ketika mendapatkan suatu sekuen DNA/protein yang belum diketahui fungsinya maka dengan membandingkannya dengan yang ada dalam database bisa diperkirakan fungsi daripadanya.

SKRINING BAKTERI VIBRIO SP ASLI INDONESIA SEBAGAI PENYEBAB PENYAKIT UDANG BERBASIS TEHNIK 16S RIBOSOMAL DNA
(SCREENING OF INDONESIAN ORIGINAL BACTERIA VIBRIO SP AS A CAUSE OF SHRIMP DISEASES BASED ON 16S RIBOSOMAL DNA-TECHNIQUE) 

Budidaya udang memberikan kontribusi yang besar bagi produksi sektor perikanan Indonesia. Berbagai kegagalan panen yang terjadi pada tambak udang di Indonesia menjadi fenomena yang sangat merugikan petani tambak. Kegagalan panen biasanya disebabkan serangan bakteri Vibrio yang mengakibatkan kematian udang dalam waktu yang cepat dan dalam jumlah yang besar. Udang yang terserang Vibrio umumnya ditandai dengan gejala klinis, di mana udang terlihat lemah, berwarna merah gelap atau pucat, antena dan kaki renang berwarna merah. Salah satu teknologi terbaik yang mampu mengidentifikasi spesies Vibrio adalah dengan mengetahui struktur DNA, yakni dengan teknik sekuens 16S rDNA. Dalam mempelajari bakteri Vibrio penyebab penyakit udang, teknik ini merupakan teknik yang relatif baru yang belakangan sering diterapkan karena bisa dibandingkan dengan basis data di Gen Bank untuk mengetahui kemiripan homologi DNA dengan bakteri yang sejenis. Skrining bakteri menggunakan teknik sekuens 16S rDNA merupakan suatu teknik dalam mengidentifikasi suatu spesies organisme. Teknik ini dilakukan dengan menganalisa struktur atau susunan basa DNA yang terdapat di daerah 16S DNA. Seiring semakin berkembangnya dunia bioinformasi, usaha untuk menentukan jenis spesifik bakteri penyebab penyakit pada udang secara tepat dan efisien sangat diperlukan, guna mempermudah dalam menanggulangi penyebaran penyakit yang disebabkan oleh bakteri patogen pada budidaya tambak udang. Analisa asam nukleat merupakan metode terbaik dan terpercaya untuk menandakan spesies dan menentukan hubungan antara organisme yang berbeda. Analisis sekuens DNA mewakili referensi terakhir untuk mengenali subtipe dalam satu spesies atau skrining mikroba. Idealnya, perbandingan di antara strain-strain dalam suatu spesies dapat diketahui melalui DNA. Identifikasi menggunakan teknik sekuens 16S rDNA mendapatkan bakteri pada udang windu, air tambak, dan air laut didominasi oleh genus Vibrio. Genus Vibrio merupakan patogen oportunistik, yaitu organisme yang dalam keadaan normal ada dalam lingkungan pemeliharaan lalu berkembang dari sifat yang saprofit menjadi patogenik karena kondisi lingkungan memungkinkan.

Menurut Handayani (2008) homologi sekuens  16S rDNA dari masing-masing isolat bakteri dengan sekuens 16S rDNA dari database GenBank dapat diketahui bahwa tidak ada sekuens 16S rDNA bakteri yang identik. Penyejajaran (Allignment) sekuens sampel dengan sekuens dari  basis  data Gen Bank dilakukan menggunakan program Clustal X. Untuk memperoleh pohon filogenetik digunakan program N-J pada Clustal X dengan tingkat 100 x bootstrap, kemudian hasil dalam bentuk pohon filogenetik dapat dilihat pada program  Treeview. Pohon filogenetik berguna untuk menunjukkan hubungan kekerabatan dari setiap spesies yang dilihat berdasarkan karakteristik molekuler antar spesies maupun antar strain dalam spesies yang sama. Pohon filogenetik dari beberapa spesies bakteri Vibrio. Berdasarkan hasil identifikasi molekuler, V. alginolyticus  FNS A08 diperoleh dengan tingkat homologi 98 % dengan panjang basa 526 pb dan strain FNS A08. Bakteri ini bersifat gram negatif, katalase positif, oksidase. Isolat bakteri yang berhasil diidentifikasi dengan menggunakan analisis 16S  rDNA dari perairan Indonesia (kepulauan Bengkalis,  Sumatera dan dari tambak di Jepara,  Jawa), lima strain diantaranyasudah  terdaftar  secara internasional pada gen Bank Dunia, yaitu  Vibrio alginolyticus, Vibrio parahaemolyticus, Vibrio harveyi, Vibrio shilonii,  dan Vibrio vulnificus.upaya pencegahan perkembangann bakteri tersebut untuk menghambat pertumbuhan bakteri  Vibrio  sp pada budidaya  udang windu khususnya dan pada budidaya  perikanan  umumnya. Kemudian perlu dilakukan penelitian mendalam terhadap kedua strain yang diduga merupakan strain asli Indonesia yang diharapkan bisa menjadi pengkayaan strain  Vibrio  sp pada gen bank bakteri dunia. 

Berdasakan deteksi dari bantuan BLAST tersebut kita mampu mengerti dan mampu mengidentifikasi jenis bakteri vibrio yang dapat menyerang udang, dengan bantuan ini kita semakin bisa meningkatkan kesehatan bagi udang, karena udang komoditas penting yang nilai jualnya juga lumayan mahal. BLAST juga bisa membantu pembudidaya untuk meningkatkan produksi udang yang dibudidayakan, semakin banyak udang yang sehat dan hidup maka hasil produksi juga semakin meningkat, begitu juga dari segi ekonomi. BLAST juga tidak melanggar nilai-nilai/norma dalam budidaya, karena sifat dari BLAST sendiri adalah mengidentifikasi jenis bakteri fibrio dari penggunaan 16S rDNA.



REFERENSI 

Minggu, 08 November 2015

Ular Albert (Leiopython albertisii)

Leiopython albertisi atau ular gold albertisi piton atau ular Gold albert merupakan ular pembelit tidak berbisa yang populer di dunia. ular dengan motif khas berupa warna coklat keemasan (memantulkan spektrum warna pelangi) dan wajah bagaikan tengkorak. ular ini memakan mamalia dan burung. Gold albert adalah ular sedang yang dapat mencapai 2,5 meter di alam. Ular ini ditemukan di sebagian besar New Guinea (dibawah 1.200m), termasuk pulau-pulau Salawati dan Biak, Normanby, Mussau dan Emirau, serta beberapa pulau di Selat Torres. umumnya galak di kandang dan jinak ketika dipegang (tipikal teritorial) dalam pemeliharaan, sering sekali hessing, ukurannya bisa lebih kecil karena faktor tempat/kandang.

Kingdom : Animalia
Phylum : Chordata
Subphylum : Vertebrata
Class : Reptilia
Order : Squamata
Suborder : Serpentes
Family : Phytonidae
Genus : Leiopython, Hubrecht, 1879
Species : L. albertisii

Referens

Sabtu, 18 Januari 2014

TUGAS REVIEW DAN KRITIK JURNAL SIG

KAJIAN KONDISI OSEANOGRAFI UNTUK KELAYAKAN BUDIDAYA BEBERAPA
SPESIES RUMPUT LAUT DI PERAIRAN PANTAI BARAT SULAWESI SELATAN

Study Oceanographic Conditions for Feasibility Cultivation Some Species of Seaweed
in Coastal Waters West of South Sulawesi

Ilham Jaya1& Abd. Rasyid J2
1,2)Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan, Universitas Hasanuddin

ABSTRACT
Seaweeds, one of important commodity in Indonesia, have been widely used for daily needs,
either for consumption or for industrial raw material. Seaweed culture requires environment
preference for living in the water. This study was carried out in the waters of Pangkep Regency for
six months, form July to December 2009. The obtained field data consisted of several physicchemical
oceanography parameters. These data were then analyzed to evaluate and determine the
feasibility of marine waters location for seaweed culture purpose, using scoring test, then followed
by score weighing. The result of the study suggested that the study area was categorized as suitable
enough. In general, the study area can be categorized as suitable area for seaweed culture
provided considering certain limiting factors. There are six seaweed species have not been
cultured and they have economic prospects.
Keywords: seaweed, culture feasibility, west coast

PENDAHULUAN
Rumput laut merupakan komoditi yang pemanfaatannya cukup luas dalam kehidupan
sehari-hari, baik untuk dikonsumsi secara langsung, maupun sebagai bahan baku berbagai industri.
Sehingga secara komersial, budidaya komoditi tersebut bersifat sangat menguntungkan. Namun
demikian, kenyataan menunjukkan bahwa produksi dalam negeri komoditas tersebut belum
mencapai target yang dicanangkan sesuai ketersediaan lahan budidaya potensial yang tersebar pada
berbagai peraiaran di Indonesia.
Budidaya rumput laut memerlukan preferensi lingkungan untuk tumbuh pada perairan.
Preferensi ini jika tidak dipenuhi maka akan sulit bahkan tidak biasa bagi rumput laut untuk
tumbuh. Faktor oseanografi memegang peranan penting dalam preferensi lingkungan disamping,
topografi serta letak pulau tempat penanaman rumput laut (Barsanti & Paolo Gualtiari, 2006).

METODE PENELITIAN
Lokasi dan Waktu Pelaksanaan
         Kegiatan penentuan kelayakan budidaya rumput laut dari beberapa spesies baru di perairan
Kabupaten Pangkep dilaksanakan selama enam (6) bulan, mulai bulan Juli – Desember 2009.
Metode Pelaksanaan
Analisis Kuantitatif-Deskriptif
         Data pengukuran di lapangan dan di laboratorium berupa angka atau nilai parameter
perairan dianalisis secara kuantitatif. Kemudian kisaran nilai kesesuaian dan kelayakan perairan
laut untuk budidaya perikanan ini dijelaskan dan dibahas secara deskriptif dalam bentuk pelaporan
kegiatan. Semua aspek-aspek kelayakan budidaya perikanan laut akan dianalisis berdasarkan datadata
lapangan yang mengacu pada standar referensi ilmiah

HASIL DAN PEMBAHASAN
         Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep) terletak di pesisir pantai Barat Propinsi
Sulawesi Selatan antara 110˚ - 113˚ BT dan 4˚40’ LS sampai dengan 8˚00’ LS dengan batas- batas
wilayah, meliputi :
  •  Sebelah Utara berbatasan dengan Kabupaten Barru
  •  Sebelah Selatan berbatasan dengan Kabupaten Maros
  •  Sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Bone
  •  Sebelah Barat berbatasan dengan P. Kalimantan, P. Jawa, P. Madura, P. Nusa Tenggara dan Bali
         Luas wilayah Kabupaten Pangkep 12.362,73 km2, dengan luas wilayah daratan 898,29
km2ndan wilayah laut 11.464,44 km2 dengan jumlah 112 pulau. Secara administrasi, Pemerintah
Kabupaten Pangkep terdiri dari 12 Kecamatan, terbagi atas 9 kecamatan daratan dan 3 kecamatan di
kepulauan.
         Hasil tabulasi pengukuran kedalaman di perairan Pangkep berkisar 0,81 – 32,1 m.
Berdasarkan hasil pengukuran tersebut diperoleh pada stasiun (5,6,10,12,13) tergolong sesuai untuk
kegiatan budidaya rumput laut, stasiun (3,4) tergolong cukup sesuai dan stasiun (1,2,7,8,9,11) tidak
sesuai untuk budidaya rumput laut. Hal ini sejalan dengan Aslan(1998) dan Hidayat(1994) yang
mengemukakan bahwa kedalaman yang sesuai untuk kegiatan budidaya rumput laut berkisar 0,6 –
2,1 m, cukup sesuai 0,3 – 0,59 atau 2,1 – 10 m dan tidak sesuai < 0,3 atau > 2,1.
         Pengukuran gelombang di perairan Kabupaten Pangkep didapatkan tinggi gelombang 0,87
meter. Hasil tersebut merupakan tinggi gelombang yang sesuai untuk budidaya rumput laut.
         Hasil pengukuran pasang surut di lapangan didapatkan pasang tertinggi 2,51 meter , surut
terendan 0,60 meter, beda tinggi muka air 1,91 meter dan nilai MSL 1,05 meter. Sehingga
parameter pasut berada pada kelas yang sesuai untuk budidaya rumput laut.
         Hasil pengukuran kecepatan arus yang diperoleh di lapangan berkisar 0,029 – 0,13 m/s
cukup sesuai untuk kegiatan budidaya rumput laut. Hal ini sejalan dengan Aslan (1998) bahwa
kecepatan arus yang sesuai 0,2 – 0,3 m/s, cukup sesuai 0,31 – 0,4 m/s atau 0,1 – 0,019 m/s dan tidak
sesuai < 0,1 atau > 0,4 m/s.
         Perairan Pangkep merupakan perairan yang tingkat kecerahannya tinggi dan sesuai dalam
kegiatan budidaya rumput laut. Hasil pengukuran tersebut sejalan dengan Aslan (1998) bahwa
tingkat kecerahan yang sesuai untuk budidaya rumput laut berkisar 80% - !00%.
         Menurut Aslan (1998) dan Hidayat (1994) bahwa kekeruhan suatu perairan yang sesuai
untuk kegiatan rumput laut <10 NTU, cukup sesuai berkisar 10 – 40 NTU da tidak sesuai >40 NTU.
Berdasarkan hasil pengukuran di perairan Pangkep bahwa rendahnya kekeruhan di perairan tersebut
sesuai untuk kegiatan budidaya rumput laut.
         Hasil pengukuran suhu di lapangan pada perairan Pangkep didapatkan berkisar antara 28 –
31 ˚C. Yaitu pada stasiun 1 – 9 dan 12,13 suhunya sesuai dalam budidaya rumput laut sedangkan
stasiun 10 dan 11 suhunya cukup sesuai.
         Hasil pengukuran salinitas di Kabupaten Pangkep berada pada kisaran 33 ‰ – 36 ‰. Salinitas perairan Kabupaten Pangkep berada pada kelas yang cukup sesuai dan tidak sesuai. Kelas yang cukup sesuai berada pada stasiun 1,3 – 7,10 – 13 sedangkan kelas yang tidak sesuai pada stasiun 2,8 dan 9.
         Pengukuran DO di perairan Kabupaten Pangkep didapatkan berada pada kisaran 5,78 mg/l
– 7,56 mg/l. Maka hasil pengukuran tersebut berada pada kelas yang sesuai untuk budidaya rumput laut.
         Menurut Aslan (1998) dan Hidayat (1994) bahwa derajat keasaman yang sesuai untuk
budidaya rumput laut berkisar 7 – 8,5, cukup sesuai 6,5 - <7 atau <8,5 – 9,5 dan tidak sesuai <6,5
atau >8,5. Hasil pengukuran didapatkan bahwa pH di perairan Pangkep sesuai untuk kegiatan
budidaya rumput laut.
Analisis Kesesuaian Perairan Budidaya Rumput Laut

         Analisis kesesuaian dilakukan dengan tujuan untuk mendapatkan ruang atau area yang
sesuai untuk budidaya rumput laut di perairan Kabupaten Pangkep. Evaluasi nilai dari masing –
masing kelas kesesuaian setiap parameter berdasarkan kriteria kelas, pembobotan dan skoring
dengan menggunakan aplikasi SIG.
         Tingkat kesesuaian perairan tersebut didapatkan tiga kelas kesesuaian, yaitu sesuai, cukup
sesuai dan tidak sesuai. Penentuan kelas kesesuaian perairan diperoleh melaluai skoring dan
pembobotan. Kategori kelas sesuai artinya bahwa tidak mempunyai faktor pembatas yang berarti
untuk mempertahankan tingkat pengolahan yang harus diterapkan, kelas cukup sesuai artinya
bahwa mempunyai faktor pembatas yang berarti untuk mempertahankan tingkat pengolaan yang
harus diterapkan tetapi faktor pembatas tersebut dapat dikurangi atau diperbaiki dengan pemberian
input baru. Dan tingkat kesesuaian terakhir adalah kategori kelas tidak sesuai artinya bahwa tidak
dapat direkomendasikan sebagai area untuk kegiatan budidaya rumput laut.

         Hal ini juga dapat dilihat pada kecepatan arus yang relatif kecil sehingga kandungan nutrien
yang dibawa sangat kurang. Tinggi gelombang yang tidak sesuai sehingga mengakibatkan proses
pertumbuhan pada rumput laut terhambat karena kotoran yang menempel tidak dapat dibersikan.
Jenis Rumput Laut
          Rumput laut terdiri dari ratusan jenis yang tersebar di perairan Indonesia dan hanya terdapat
lima jenis yang mempunyai nilai ekonomis tinggi yaitu dari Gelidium sp, Geldiella sp, Hypnea sp,
Euchema sp dan Gracillaria sp (Balitbangda,2006).

       Berdasarkan hasil yang diperoleh dari lapangan bahwa 18 spesies rumput laut yang tersebar diperairan, ada 6 jenis yang dapat dibudidayakan dan memiliki nilai ekonomis yang cukup tinggi yaitu Gelidium sp, Sargassum polycystum, Hypnea sp, Ulva fascitiata, Caulerpa resemosa dan
Gracillaria sp.


KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian maka dapat ditarik beberapa kesimpulan: Lokasi penelitian
memperlihatkan bahwa daerah tersebut masuk dalam kategori cukup sesuai (CS). Secara
keseluruhan daerah penelitian dapat dijadikan sebagai daerah budidaya rumput laut, dengan tetap
memperhatikan faktor-faktor pembatas tertentu. Terdapat enam jenis rumput laut yang belum
dibudidayakan dan memiliki prospek secara ekonomi.

DAFTAR PUSTAKA
 Aslan,M. 1998. Budidaya Rumput Laut. Penerbit Kanisius. Yogyakarta

Balitbagda Propinsi Sulawesi Selatan, 2006. Sinkronisasi Kebijakan Pengembangan dan Pemetaan
             Kesesuaian Lahan dalam Rangka Peningkatan Daya Saing Produk Budidaya Rumput
             Laut Propinsi Sulawesi Selatan. Balitbagda. Prop. Sulsel kerjasam dengan LP2S-UMI,
             Makassar
Hidayat, A. 1994. Budidaya Rumput Laut. Usaha Nasional. Surabaya

KRITIK JURNAL
           Jurnal tersebut bagus dan menarik,isinya mengenai parameter-parameter yang mempengaruhi untuk budidaya rumput laut dan jenis-jenis rumput laut. Lebih baik jika jurnal tersebut menyebutkan juga system budidaya rumput laut yang bisa digunakan dalam perairan tersebut.

 

TUGAS REVIEW DAN KRITIK JURNAL SIG

APLIKASI SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS DALAM PENENTUAN
KESESUAIAN KAWASAN KERAMBA JARING TANCAP DAN
RUMPUT LAUT DI PERAIRAN PULAU BUNGURAN
KABUPATEN NATUNA
Irwandy Syofyan1), Rommie Jhonerie1), Yusni Ikhwan Siregar1)
1)Dosen Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Riau
Diterima : 30 Juli 2010 Disetujui : 15 Agustus 2010
ABSTRAK
Penelitian dilaksanakan di daerah perairan Pulau Bunguran Kabupaten Natuna. Tujuan penelitian untuk menentukan kesesuaian kawasan perairan untuk keramba jaring tancap dan rumput laut. Metode yang digunakan adalah metode survei dengan cara mengukur faktor lingkungan perairan. Proses penentuan kesesuaian kawasan tersebut dilakukan dengan menggunakan operasi spasial dengan memanfaatkan aplikasi SIG. Untuk menentukan kesesuaian kawasang digunakan metode weighted overlay. Penelitian didapatkan dominansi kesesuaian kawasan untuk kegiatan KJT dan rumput laut berada pada kelas sesuai yaitu sebesar 49,4%,
kemudian kelas sangat sesuai sebesar 31,1% dan tidak sesuai sebesar 19,5% di
perairan Pulau Bunguran.
PENDAHULUAN
Perkembangan usaha Keramba Jaring Tancap cukup signifikan ditengah masyarakat, namun diketahui bahwa penempatan keramba tersebut masih belum tertata dengan baik, Oleh karenanya sangat perlu dilakukan pengidentifikasian lokasi-lokasi yang cocok dan layak secara parameter guna pengembangan usaha KJT dan budidaya rumput laut ini.
METODE

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survai. Proses penentuan kesesuaian kawasan tersebut dilakukan dengan menggunakan operasi spasial dengan memanfaatkan aplikasi SIG. Operasi spasial tersebut merupakan operasi tumpang susun (overlay), dalam prosesnya operasi tumpang susun adalah adalah suatu proses penyatuan data spasial dan merupakan salah satu fungsi efektif dalam SIG yang digunakan dalam analisa keruangan. Weighted overlay merupakan sebuah teknik untuk menerapkan sebuah skala penilaian untuk membedakan input menjadi sebuah analisa yang terintegrasi. Weighted overlay memberikan pertimbangan terhadap faktor atau kriteria yang ditentukan dalam sebuah proses pemilihan kesesuaian.
Gambar 1. Diagram pengolahan data
HASIL
Hasil analisa spasial dengan menggunakan metode weighted overlay diperoleh tiga kesesuaian kawasan KJT dan Rumput Laut yaitu: sangat sesuai, sesuai dan tidak sesuai. Dominansi kesesuaian kawasan yaitu kelas sesuai sebesar 49,4% (76.491,63 Ha), kelas sangat sesuai sebesar 31,1% (48.193,92 Ha) dan tidak sesuai sebesar 19,5% (30.174,3 Ha).

 Gambar 2. Kelas kesesuaian kawasan KJT dan Rumput Laut Kelas
a.       Desa Pengadah, Kelanga, Tanjung dan Sepempang
Kawasan ada beberapa daerah yang sangat kecil sekali berada pada kelas tidak sesuai seperti pada sekitar Pulau Sahi di Desa Tanjung dan di sekitar Pulau Senoa, Desa Sepempang. Hal ini diakibakan karena hasil interpolasi kedalaman yang menggeneralisasi kedalaman perairan pada sekitar pulau-pulau tersebut.

Gambar 3. Kesesuaian kawasan KJT dan rumput laut di perairan Desa Pengadah,
          Kelanga, Tanjung dan Sepempang
  

a.      Desa Pulau Tiga, Sabang Mawang dan Sededap
Hasil analisa kesesuaian kawasan terlihat sebagian besar kawasan pada perairan Pulau Tiga tidak sesuai khususnya pada bagian luar Pulau Tiga yang berada di bagian Barat Selatan dan Timur, namun pada perairan antar pulau (selat-selat) merupakan kawasan yang sangat sesuai dan sesuai untuk aktifitas KJT dan rumput laut.

Gambar 5. Kesesuaian kawasan KJT dan rumput laut di perairan Pulau Tiga
a.   
KESIMPULAN
1.      
Hasil analisa untuk Desa Pengadah, Kelanga, Tanjung dan Sepempang menunjukkan sebagian besar perairan di keempat desa tersebut layak dilakukan aktifitas KJT dan rumput laut karena kelas kesesuaian berada pada kelas sangat sesuai dan sesuai.
Di perairan Desa Cemaga kelas sesuai mendominasi pada perairan ini, diikuti oleh kelas sangat sesuai dan tidak sesuai. Kelas tidak sesuai dapat ditemukan disepanjang garis pantai Tanjung Medang dan pada beberapa pulau kecil
Hasil analisa kesesuaian kawasan terlihat sebagian besar kawasan pada perairan Pulau Tiga tidak sesuai khususnya pada bagian luar Pulau Tiga yang berada di bagian Barat Selatan dan Timur. Namun pada perairan antar pulau (selat-selat) merupakan kawasan yang sangat sesuai dan sesuai untuk aktifitas KJT dan rumput laut.
Di perairan Desa Kelarik sebagian besar merupakan kawasan yang cocok untuk melakukan kegiatan KJT dan rumput laut. Dominasi kelas kesesuaian sesuai dan sangat sesuai tersebar merata diperairannya 
 
 l   KRITIK DAN SARAN JURNAL
Jurnal ini cukup informatif dan menarik untuk dijadikan pembelajaran, akan tetapi jurnal ini hanya menampilkan kesesuaian dalam lokasinya saja. Jurnal tersebut alangkah lebih baiknya jika data-data yang didapat di masing-masing daerah dicantumkan sehingga dapat mengetahui bahwa dengan kondidi seperti itu sesuai atau tidak untuk budidaya rumput laut dan KJT. Jadi gambar tersebut disertakan data-data yang sesuai dengan kondisi aslinya.
 
DAFTAR PUSTAKA
Irwandy Syofyan, Rommie Jhonerie, Yusni Ikhwan Siregar. Aplikasi Sistem Informasi Geografis Dalam Penentuankesesuaian Kawasan Keramba Jaring Tancap dan Rumput Laut di Perairan Pulau Bunguran Kabupaten Natuna. Jurnal PERIKANAN dan KELAUTAN 15,2 (2010) : 111-120
 j